Telinga Alba terasa panas. Ocehan panjang tak hentinya mengalir dari mulut Jeff yang tengah menyetir di sampingnya. Alba bersyukur hari ini adalah hari kerja sehingga Diego dan Matteo tidak dapat di hubungi. Bulu kuduk Alba seketika berdiri membayangkan apa yang terjadi seandainya kedua sahabatnya itu berada di dalam mobil dan ikut menceramahinya.

“Now, tell me what you’re gonna do once we’re there.” tuntut Jeff pelan saat navigasi mobil yang mereka kendarai menunjukkan ‘3 menit’ di kolom estimasi waktu tiba.

“I go look for him and pull him away so I could apologize, really apologize, then ask him if he would take me back despite my stupid way of handling things earlier.” kata Alba mantap dengan satu napas.

“Good! Then assuming he took you back, you go talk to Enzo, jelasin ke dia how much Nathan... Danish—why do you call him that, gue masi gak ngerti— anyway, jelasin ke Enzo kalo you really like him and he’s been treating you real good so he has nothing to worry about. Kalo emang cowok lu sebaik yang lu bilang, pasti Enzo bakal setuju sama hubungan kalian.”

Alba yang gugup hanya dapat menganggukan kepala, perasaan cemas yang ia rasakan semakin menjadi seiring dengan jarak villa yang kian mendekat.

Setibanya di villa, Alba dengan gugup melangkah melintasi halaman depan. What if he hates me now? That was very mean of me to dodge his question like that.

Di ruang tengah, Enzo dan teman-temannya sedang duduk berkumpul, menertawakan sesuatu di tablet milik Grace. Saat Alba yang di ikuti Jeff memasuki ruang tengah, Enzo dengan spontan menyapa mereka, tidak ada nada aneh dari sapaan adiknya yang menandakan Danish maupun Jamie tidak membahas kejadian tadi pada siapapun.

Alba yang sedari tadi mengulang-ulang kata ‘I’ts now or never’ dalam benaknya, tidak menghiraukan sapaan dari siapapun dan lansung berjalan menuju tempat Danish yang tengah duduk di sofa. Membuat semua kepala berpaling ke arah mereka.

Langkah Alba terhenti tepat di depan sosok Danish yang menatap Alba dengan tatapan bingung. She can feel her face turns red when no one said anything, the room falls into a demanding silence. Kedua tangan Alba terulur kedepan, “Danish, can we please talk?” lirih Alba pelan, memecah keheningan.

Tatapan yang dipenuhi tanda tanya terpancar dari mata teman-teman Danish. Enzo yang kebingungan berpaling ke arah Jeff dan Jamie yang hanya mengangkat bahu, tak tahu harus memberi jawaban apa.